Sudah bertahun tahun lebih rasa ini tetap duduk di kamarnya, Pada kehidupan yang tak cukup panjang untuk menampung segala yang tak sempat, Bolehkan aku menjadikanmu satu satu nya hal favorit yang ku simpan, Jika hidup adalah lilin yang cepat meleleh, biar kusulut seluruh nyalanya hanya untuk melihat wajahmu bercahaya dalam remang yang lembut,

Kalau boleh memilih takdir, akan kutukar beberapa detikku dengan satu pelukan erat yang tak dicuri waktu, Aku ingin menyayangimu tanpa harus mengukur sisa usia, menyukaimu dengan segenap yang bersisa, Aku sejatuh jatuhnya dengan mu, yang sama sekali tak mampu aku gapai untuk kumiliki, Namun hanya bisa bersua sebatas aksara di tulisan tulisanku, Subjek utama yang selalu kusebut di tengah obrolan dengan Tuhan, Dan tanpa rasa malu kuungkapkan pada penjuru langit, Menceritakan bagaimana dirimu memperlakukan orang orang disekitarmu, Kamu Baik, Namun sekali lagi kamu hanya peran utama dalam rasa tak terbalas ini,

Dan keharusan meninggalkanmu adalah perdebatan panjang antara rasa pilu & kasih sayang, Menerka nerka esok aku harus seperti apa, kemudian membayangkan wajah teduhmu yang hampir tak memiliki jawabannya,

Semesta hanya memperlihatkan kita, hanya menitipkan rasa sepihak, & tidak sudi untuk memperkenalkan kita satu sama lain,

Perihal teduhmu yang ingin sekali kubawa dalam perjalanan menuju pulang, Ternyata lebih baik dirindukan & direlakan

Aku si gadis eksplisit, berterus terang atas perasaan yang dipikirkannya, Aku si gadis eksplisit, berterus terang atas pikiran yang dirasakannya, Tapi akhir kisahnya begitu singkat & kamu mendoakannya yang terbaik,

Terima Kasih , Kamu Baik. Tabik.-